BERITA UTAMA

Lia Istifhama: Jangan Viralkan Videonya, Lindungi Masa Depan Anak

×

Lia Istifhama: Jangan Viralkan Videonya, Lindungi Masa Depan Anak

Share this article

RADARTEMPO.ID SURABAYA – Di balik ramainya perbincangan publik mengenai video viral yang diduga melibatkan seorang pelajar di Banyuwangi, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos.I., M.E.I., mengajak masyarakat untuk melihat persoalan ini dengan hati yang lebih bijak. Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut, setiap anak berhak memperoleh perlindungan dan kesempatan memperbaiki masa depannya, bukan menjadi sasaran perundungan maupun stigma yang berkepanjangan.

Baginya, peristiwa ini bukan sekadar kabar yang mengundang rasa penasaran publik. Lebih dari itu, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi digital harus dibarengi dengan penguatan pendidikan karakter, literasi digital, serta pendampingan dari keluarga dan lingkungan.

“Ketika sebuah peristiwa melibatkan anak, yang harus kita kedepankan adalah rasa peduli. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang masih membutuhkan bimbingan. Jangan sampai kesalahan atau musibah yang terjadi hari ini menghilangkan kesempatan mereka untuk memiliki masa depan yang baik,” ujar Lia.

Ia menegaskan, apabila pihak yang terlibat masih berstatus anak, maka seluruh proses harus mengutamakan prinsip perlindungan anak sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Penegakan hukum tetap penting, tetapi harus berjalan seiring dengan upaya pembinaan dan pemulihan psikologis.

Menurut Lia, salah satu bentuk kepedulian yang paling sederhana namun sangat berarti adalah berhenti menyebarluaskan video yang beredar di media sosial. Semakin banyak orang membagikan konten tersebut, semakin besar pula beban psikologis yang harus ditanggung oleh anak dan keluarganya.

Ramai dibaca :  Perzinahan Dilakukan PNS BPKAD Pemprov Jatim ke Penjara, Terbukti Tisu dan Celana Dalam

“Jangan karena rasa ingin tahu, kita justru ikut memperpanjang luka orang lain. Bijak menggunakan media sosial bukan hanya soal etika, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama,” katanya.

Ning Lia mengingatkan bahwa jejak digital dapat bertahan sangat lama. Apa yang hari ini dianggap sekadar unggahan, bisa menjadi beban yang terus mengikuti kehidupan seseorang di masa depan.

Karena itu, ia mendorong sekolah untuk semakin aktif memberikan pendidikan mengenai etika bermedia sosial, keamanan digital, perlindungan privasi, serta konsekuensi hukum dari penyebaran konten di internet. Di sisi lain, keluarga juga diharapkan semakin hadir mendampingi anak ketika berinteraksi di ruang digital.

“Orang tua adalah tempat pertama anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Pendampingan yang hangat, komunikasi yang terbuka, dan perhatian terhadap aktivitas digital anak akan menjadi benteng terbaik dalam menghadapi tantangan zaman,” tuturnya.

Selain pendidikan, Lia juga menilai pendampingan psikologis perlu diberikan kepada anak yang terdampak agar mereka mampu bangkit, melanjutkan pendidikan, dan menjalani kehidupan tanpa terus dibayangi stigma.

Menurutnya, perlindungan anak di era digital bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau sekolah, melainkan membutuhkan gotong royong seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, hingga para pengguna media sosial.

“Yang harus kita viralkan bukanlah videonya, melainkan kepedulian, edukasi, dan semangat melindungi anak-anak Indonesia. Dengan begitu, ruang digital akan menjadi tempat yang lebih aman, sehat, dan penuh harapan bagi generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

Ramai dibaca :  Diduga Alergi Dengan Awak Media, Kepala UPT PUBM Provinsi Jatim Sulit Ditemui

(Anil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Konten dilindingi !!