BERITA UTAMABIKNISEKONOMI

Tanaman Hias Jatim Tembus Pasar Dunia

×

Tanaman Hias Jatim Tembus Pasar Dunia

Share this article
Tanaman Hias Jatim Tembus Pasar Dunia

Radartempo.id Batu – Badan Karantina Indonesia (Barantin) memperkuat sistem ketertelusuran atau traceability tanaman hias ekspor dari Jawa Timur untuk menjaga keberterimaan komoditas Indonesia di pasar internasional.

Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya lalu lintas tanaman hias dari Jawa Timur yang telah menjangkau Amerika Serikat, Jepang hingga sejumlah negara Eropa.

Data sertifikasi Karantina Jawa Timur mencatat, sepanjang Januari-Agustus 2026 terdapat 3.616 kali sertifikasi ekspor tanaman hias dengan volume mencapai 874.005 batang dan nilai komoditas Rp9,21 miliar.

Lima negara tujuan ekspor tertinggi adalah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, dan Belanda.

Untuk memperkuat ketertelusuran komoditas tersebut, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur bersama Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan Barantin turun langsung ke sejumlah nursery tanaman hias ekspor di Kota Batu, Rabu (17/9).

Tiga produsen yang dikunjungi yakni PT SIU, CV BF, dan PT BMI. Petugas meninjau rantai produksi secara langsung, mulai dari pembibitan, perawatan tanaman, hingga proses pengemasan sebelum komoditas dikirim ke negara tujuan.

Penelusuran hingga ke tingkat nursery diperlukan karena traceability menjadi salah satu aspek penting dalam pemenuhan persyaratan fitosanitari negara tujuan.

Sistem tersebut juga menjadi instrumen penting apabila muncul notifikasi ketidaksesuaian terhadap tanaman hias Indonesia di negara tujuan. Dengan ketertelusuran yang baik, sumber persoalan dapat dilacak kembali hingga ke titik produksi.

Ramai dibaca :  Polres Bangkalan Gelar KRYD Bulan Suci Ramadhan 13 Motor Tanpa STNK Diamankan

Berdasarkan evaluasi Barantin, penerapan sistem ketertelusuran saat ini belum optimal pada seluruh pelaku usaha. Kondisi tersebut dapat menyulitkan proses investigasi ketika ditemukan ketidaksesuaian pada komoditas yang diekspor.

Karena itu, Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan memetakan langsung proses bisnis di tingkat produsen sebagai dasar untuk mengembangkan konsep traceability tanaman hias yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Perwakilan Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan, Kemas, mengatakan sistem tersebut diperlukan agar setiap persoalan yang muncul pada komoditas ekspor dapat ditelusuri secara lebih akurat.

“Kunjungan ke nursery ini penting agar kami dapat memahami secara langsung bagaimana proses bisnis ekspor tanaman hias berjalan di lapangan. Dengan pemahaman ini, kami dapat memperoleh gambaran konsep ketertelusuran yang ideal berdasarkan kondisi nyata di lapangan, sehingga ke depan setiap kasus ketidaksesuaian pada tanaman hias ekspor dapat ditelusuri sumbernya secara akurat,” ujar Kemas.

Menurutnya, penerapan sistem ketertelusuran yang baik juga menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan negara mitra dagang terhadap tanaman hias asal Indonesia.

Hal tersebut semakin penting di tengah ketatnya persyaratan biosekuriti internasional dan kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan akses pasar ekspor.

Ketua Kelompok Kerja Karantina Tumbuhan Karantina Jawa Timur, Masanto mengatakan, pendampingan kepada pelaku usaha akan terus dilakukan agar sistem ketertelusuran dapat diterapkan secara lebih baik.

“Melalui kunjungan ini, kami berkomitmen untuk terus mendampingi para pelaku usaha tanaman hias dalam menerapkan sistem ketertelusuran yang andal,” kata Masanto.

Ramai dibaca :  Mabuk dan Geber Knalpot Brong, Tiga Kuli Bangunan Nyaris Dihajar Warga Bungah Gresik

Sementara itu, Plt Kepala Karantina Jawa Timur Hudiansyah Is Nursal mengatakan konsep ketertelusuran diharapkan dapat diterapkan secara bertahap pada seluruh rantai produksi tanaman hias berorientasi ekspor.

Menurut Hudiansyah, kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha juga penting agar pembenahan sistem tidak hanya dilakukan pada satu sentra produksi.

“Kolaborasi antara instansi pemerintah dan pelaku usaha seperti ini diharapkan menjadi model kerja sama yang dapat direplikasi pada sentra-sentra produksi tanaman hias lainnya di Indonesia, guna mendukung pertumbuhan ekspor komoditas hortikultura nasional secara berkelanjutan,” demikian Hudiansyah.

(Anil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Konten dilindingi !!