BERITA UTAMADaerahHUKRIMTAG

Usai Armuzna, Tugas Belum Selesai: DPD RI Apresiasi Dedikasi Petugas Haji Indonesia

×

Usai Armuzna, Tugas Belum Selesai: DPD RI Apresiasi Dedikasi Petugas Haji Indonesia

Share this article

MAKKAH – Evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 mulai mengemuka seiring berakhirnya fase puncak haji dan dimulainya pemulangan jemaah ke Tanah Air. Pemerintah melalui Menteri Haji dan Umrah RI, Moch Irfan Yusuf, menegaskan bahwa dua aspek utama yang akan menjadi fokus pembenahan adalah pelayanan jemaah di Mina serta penguatan istithaah kesehatan.

Menurut Irfan, pelaksanaan haji tahun ini secara umum berjalan baik. Namun, sejumlah catatan penting masih harus menjadi perhatian agar pelayanan terhadap jemaah Indonesia semakin optimal pada musim haji mendatang.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai Mina memang menjadi titik paling berat dalam rangkaian ibadah haji. Tingginya suhu udara, kepadatan jemaah, serta aktivitas fisik yang padat membuat kawasan tersebut membutuhkan penanganan khusus.

Meski demikian, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu memberikan apresiasi terhadap berbagai kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang dinilai mengutamakan keselamatan jemaah.

“Saya melihat pemerintah Arab Saudi sangat memperhatikan kondisi fisik jemaah dari berbagai negara. Pengaturan waktu menuju Jamarat, pengawasan ketat, hingga larangan bergerak pada jam-jam panas dilakukan untuk melindungi keselamatan jemaah dan menghindari penumpukan massa,” ujar Ning Lia.

Menurutnya, kebijakan tersebut terbukti mampu mengurangi risiko kelelahan ekstrem hingga potensi insiden yang kerap terjadi akibat cuaca panas dan kepadatan manusia di kawasan Mina.

Di sisi lain, Ning Lia menilai pemerintah perlu mulai memikirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan area Mina yang secara geografis tidak memungkinkan untuk diperluas.

Ramai dibaca :  Kades Mlirip Ir Purwanto NL.P Diduga Blokir WA Wartawan, Disinyalir Hindari Konfirmasi Kasus Dugaan Pencabulan Anak

Salah satu opsi yang dinilai layak dipertimbangkan adalah pembangunan tenda bertingkat serta optimalisasi skema tanazul, yakni menempatkan sebagian jemaah di hotel-hotel Makkah saat mabit dibanding harus seluruhnya berada di tenda Mina.

“Yang terpenting adalah terpenuhinya kewajiban ibadah. Formula yang lebih manusiawi perlu terus dicari karena jumlah jemaah terus bertambah setiap tahun,” katanya.

Namun, dalam evaluasi haji kali ini, Ning Lia mengingatkan agar perhatian tidak hanya tertuju pada jemaah. Menurutnya, ada kelompok lain yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan, yakni para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

Ia mengungkapkan, banyak petugas yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi demi memastikan pelayanan terhadap jemaah berjalan maksimal.

“Banyak petugas kita yang begitu fokus melayani sampai lupa menjaga kesehatannya sendiri. Bahkan ada yang rela mengeluarkan biaya pribadi untuk mengikuti pelatihan agar lebih siap membantu jemaah di lapangan,” ungkapnya.

Selama melakukan pemantauan di Tanah Suci, Ning Lia melihat petugas haji dituntut memiliki kemampuan membaca situasi secara cepat dan tepat. Mereka harus mampu mengatur pergerakan jemaah sesuai kondisi cuaca, mengantisipasi risiko kesehatan, hingga menangani berbagai persoalan teknis yang muncul sewaktu-waktu.

Namun, menurutnya, dedikasi tinggi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian terhadap kesejahteraan dan perlindungan kesehatan petugas.

“Ketiadaan jumlah petugas kesehatan yang ideal juga membuat beban kerja mereka semakin berat. Padahal mereka berada di garis depan pelayanan,” ujarnya.

Ramai dibaca :  Unit PPA Polres Gresik Tetapkan Rekan Kerja sebagai Tersangka Penganiayaan ASN Perempuan

Apalagi setelah fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) berakhir, tugas para petugas belum selesai. Mereka masih harus mengawal proses pemulangan jemaah hingga seluruhnya kembali ke Indonesia dalam kondisi aman dan sehat.

“Saya sangat mengapresiasi petugas haji Indonesia. Setelah Armuzna selesai, tugas mereka masih panjang sampai jemaah kembali ke Tanah Air. Ini perjuangan yang luar biasa,” kata Ning Lia.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI sekaligus Naib Amirul Hajj, Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta seluruh petugas tetap meningkatkan kewaspadaan meski fase puncak haji telah berakhir.

Menurut Dahnil, masa pasca-Armuzna justru menjadi periode krusial karena banyak jemaah, khususnya lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, mengalami kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah yang padat.

Petugas diminta sigap menangani berbagai persoalan yang muncul, mulai dari layanan transportasi, pemondokan, hingga kebutuhan kesehatan jemaah.

“Saya angkat topi dengan perjuangan petugas haji Indonesia tahun 2026. Sungguh luar biasa dedikasi mereka dalam melayani jemaah,” tegas Ning Lia.

Sementara itu, proses pemulangan jemaah haji Indonesia resmi dimulai pada 1 Juni hingga 30 Juni 2026. Kloter pertama dari Embarkasi Banten dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 2 Juni 2026 pukul 09.45 WIB.

Sebanyak 390 jemaah diberangkatkan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Pada tahap awal pemulangan ini, sebanyak 17 kloter dengan total 6.798 jemaah akan diterbangkan secara bertahap menuju Indonesia.

Ramai dibaca :  Polres Tegal Kedepankan Pembinaan Humanis dalam Penanganan Tawuran Pelajar

Pemerintah memastikan seluruh proses pemulangan berlangsung sesuai jadwal operasional haji yang telah ditetapkan, sementara jemaah gelombang kedua akan kembali ke Tanah Air melalui Madinah pada periode 16 hingga 30 Juni 2026.

Anil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Konten dilindingi !!