BERITA UTAMADaerahKEAMANANPEMASYARAKATANPEMERINTAHANSINERGITAG

Nasionalisme Tak Cukup dengan Slogan, Fendi Setyawan Dorong Perubahan Nyata

×

Nasionalisme Tak Cukup dengan Slogan, Fendi Setyawan Dorong Perubahan Nyata

Share this article

Radartempo.id — JEMBER Nasionalisme tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan sejarah dan mengenang perjuangan para pendiri bangsa. Lebih dari itu, semangat kebangsaan harus menjadi kekuatan nyata untuk melawan ketidakadilan, mengurangi ketimpangan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut ditegaskan Ketua DPC Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jember, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., dalam orasi kebangsaan bertajuk *“Membangun Keadaban Bangsa Menuju Cita-Cita Trisakti”*.

Orasi tersebut disampaikan dalam rangka pelantikan Pengurus DPC PA GMNI Jember sekaligus Sarasehan Nasional Persatuan Alumni GMNI Jember, Sabtu (7/11/2026).

Fendi menilai, perjalanan 81 tahun kemerdekaan Indonesia harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kemerdekaan secara politik belum sepenuhnya bermakna apabila rakyat masih dihadapkan pada persoalan ketidakadilan, ketimpangan ekonomi, dan belum meratanya kesejahteraan.

“Indonesia tidak cukup hanya merdeka. Indonesia harus berdaulat, harus bermartabat, berkeadilan, dan berkeadaban,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan ekonomi tidak secara otomatis menjamin meningkatnya kualitas moral bangsa.

Demokrasi, misalnya, dapat kehilangan makna ketika kepentingan kekuasaan lebih dominan dibandingkan kepentingan rakyat. Begitu pula hukum yang kehilangan kewibawaan ketika penerapannya tidak menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat.

Fendi menegaskan, keadaban bangsa tidak sekadar diukur dari kesantunan dalam bertutur kata. Lebih jauh, keadaban merupakan cerminan moral, etika, dan tanggung jawab dalam menjalankan kekuasaan, menegakkan hukum, mengelola perekonomian, serta menghormati martabat manusia.

Ramai dibaca :  Brimob Polda Jatim Bangun Mako Kompi di Pasuruan, Perkuat Kesiapan Pelayanan dan Pengamanan Masyarakat

“Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghormati martabat manusia. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menjadikan hukum sebagai instrumen keadilan, bukan alat kepentingan kekuasaan,” ungkapnya.

*Trisakti Bung Karno Harus Menjadi Pedoman Pembangunan*

Dalam orasinya, Fendi kembali menekankan pentingnya menjadikan Trisakti Bung Karno sebagai arah perjuangan bangsa. Tiga prinsip tersebut meliputi berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Menurutnya, kedaulatan politik harus tercermin melalui penyelenggaraan demokrasi yang konstitusional, transparan, serta bertanggung jawab kepada rakyat.

Sementara itu, kemandirian ekonomi harus diwujudkan dengan memastikan pengelolaan kekayaan nasional benar-benar berorientasi pada kemakmuran masyarakat. Prinsip tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945.

Adapun kepribadian dalam kebudayaan perlu diperkuat melalui nilai gotong royong, toleransi, solidaritas, musyawarah, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Fendi juga mengajak para alumni GMNI agar tidak berhenti menjadikan pemikiran Bung Karno sebagai bahan diskusi maupun kutipan dalam berbagai kegiatan. Sebaliknya, pemikiran tersebut harus diterjemahkan menjadi solusi konkret atas persoalan bangsa.

Ia menilai Marhaenisme tetap relevan sebagai landasan perjuangan untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, eksploitasi, ketimpangan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.

“Marhaenisme harus terus dikembangkan sebagai perspektif perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, eksploitasi, ketimpangan, dan ketidakadilan,” ujarnya.

*Alumni GMNI Diminta Hadir Memberikan Solusi*

Lebih lanjut, Fendi menegaskan bahwa ukuran nasionalisme seseorang bukan terletak pada seberapa lantang meneriakkan kata kemerdekaan, melainkan sejauh mana kontribusinya dalam memperjuangkan kehidupan rakyat yang lebih adil dan sejahtera.

Ramai dibaca :  Polsek Batuputih Ungkap Kasus Penganiayaan, Buronan DPO Diamankan dan Dilimpahkan ke Satreskrim Polresta Sumenep

Karena itu, ia mendorong alumni GMNI yang tersebar di berbagai sektor kehidupan untuk mengambil peran strategis sesuai bidang masing-masing.

Alumni yang berada di pemerintahan diharapkan mampu menghadirkan tata kelola kekuasaan yang bersih. Mereka yang bergerak di bidang hukum harus memperjuangkan keadilan, sedangkan alumni di perguruan tinggi diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara alumni yang berkecimpung dalam dunia usaha didorong membangun perekonomian produktif yang memberikan kesempatan dan kesejahteraan secara lebih merata.

Menutup orasinya, Fendi mengingatkan bahwa Trisakti tidak boleh berhenti sebagai jargon politik maupun slogan perjuangan. Nilai-nilai tersebut harus menjadi landasan dalam menentukan arah kebijakan dan tindakan nyata untuk membangun Indonesia.

“Jangan biarkan nasionalisme hanya menjadi kenangan sejarah. Jadikan nasionalisme sebagai kekuatan perubahan. Jangan biarkan Trisakti hanya menjadi slogan perjuangan. Jadikan Trisakti sebagai pedoman tindakan dan arah pembangunan bangsa,” pungkasnya.

 

Moch.Fuad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Konten dilindingi !!