Radartempo.id — SIDOARJO Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat mengusut insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa pada Sabtu lalu. Berdasarkan data resmi, sebanyak 26 siswa dilaporkan mengalami gejala medis mengkhawatirkan seusai mengonsumsi makanan di lingkungan sekolah.
Menanggapi kejadian darurat tersebut, Disdik Kabupaten Sidoarjo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo langsung menerjunkan tim investigasi ke lokasi kejadian untuk melakukan verifikasi lapangan, penanganan medis darurat, serta pengambilan sampel makanan guna pengujian laboratorium secara komprehensif.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., menegaskan bahwa insiden ini sama sekali tidak berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan desas-desus yang berkembang di masyarakat, mengingat sekolah yang bersangkutan hingga saat ini belum menerapkan maupun menerima penyaluran program MBG.
”Untuk data yang kami peroleh hari Sabtu, total ada 26 siswa yang mengalami gejala keracunan. Mengenai penyebab pastinya, kami semua masih menunggu hasil laboratorium dari Dinas Kesehatan, jadi mohon bersabar. Yang jelas, ini bukan dari program MBG karena sekolah ini memang belum menerima MBG,” tegas Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd. Rabu, 13/8/26.
Sementara itu, dugaan awal mengenai sumber racun dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes. Pihaknya mengarahkan indikasi awal pada hidangan yang dikonsumsi oleh warga sekolah saat aktivitas pembelajaran berlangsung.
”Wa’alaikum salam wr wb. Kemungkinan dari makanan yang dikonsumsi oleh murid-murid dan guru,” ungkap dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes. saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan singkat WhatsApp.
Guna memastikan penanganan maksimal bagi para siswa, pihak sekolah menunjukkan komitmen dan tanggung jawab penuh. Kepala Sekolah SDI Ar, Rahmah Niswatun Halim, S.Pd., mengungkapkan bahwa dari total 345 siswa yang terbagi dalam 15 rombongan belajar (rombel) dari kelas 1 hingga kelas 6, seluruh jajaran pendidik dikerahkan secara intensif sejak Jumat malam hingga akhir pekan.
Pihak sekolah mengerahkan sebanyak 40 guru yang dibagi ke dalam 4 sistem penjagaan (shift) untuk mendampingi para siswa dan orang tua murid di berbagai fasilitas kesehatan, seperti Klinik Pratama dr. Andre, Rumah Sakit Mitra Keluarga Sidoarjo, dan RS Bhayangkara.
”Kami ada 40 guru saat ini. Pada hari Sabtu dan Ahad, 40 guru kami sebar ke rumah sakit untuk mendampingi ananda. Kami buat 4 shift: Sabtu pagi, Sabtu siang, Ahad pagi, dan Ahad siang. Bahkan pada Jumat malam, guru-guru mendampingi anak-anak kami yang rawat inap sampai subuh, lalu jam 8 pagi dilanjutkan shift berikutnya,” terang Niswatun Halim, S.Pd. Kamis, 13/826.
Niswatun menyampaikan rasa syukurnya atas penanganan medis yang cepat dari rumah sakit rujukan. Ia berharap seluruh anak didik dapat segera pulih total dan kembali belajar dengan ceria.
”Harapan kami, anak-anak kami sehat semuanya. Kemarin mendapatkan penanganan yang luar biasa dari rumah sakit. Harapan kami anak-anak sehat, bisa beraktivitas kembali, belajar dengan ceria dan baik, serta kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kami berkomitmen untuk menjadi sekolah yang lebih baik dan lebih sehat lagi,” lanjut Niswatun.
Sebagai bentuk evaluasi menyeluruh dan langkah penanganan konkret, manajemen sekolah mengambil keputusan tegas dengan menutup operasional kantin sekolah hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Mengingat sekolah menerapkan sistem pembelajaran sehari penuh (full day school) dari pukul 07.00 WIB hingga 15.30 WIB, pihak sekolah langsung meluncurkan inovasi program pengganti yang dinamakan MBB (Makanan Buatan Bunda).
”Hari Sabtu itu kami langsung membuat program MBB, bukan MBG ya, tapi MBB (Makanan Buatan Bunda). Karena kantin sudah kami tutup sampai waktu yang belum ditentukan. Anak-anak full day dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore tentu butuh kudapan. Melalui program MBB, wali murid menyediakan snack, buah, atau minuman yang dibawakan langsung dari rumah,” pungkas Niswatun Halim, S.Pd.
Kondisi Korban Membaik, Yayasan Tanggung Biaya Pengobatan
Perkembangan hingga Senin menunjukkan penanganan medis yang berjalan lancar. Sebagian besar siswa yang sempat menjalani perawatan intensif telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan kembali ke rumah. Hingga berita ini diturunkan, hanya tersisa satu siswa yang masih berada di rumah sakit dan diproyeksikan dapat pulang hari ini.
Disdik Sidoarjo memberikan apresiasi tinggi atas respons cepat pihak sekolah dan yayasan yang menanggung penuh seluruh beban biaya pengobatan korban yang tidak ter-cover oleh fasilitas BPJS Kesehatan.
”Alhamdulillah sampai hari Senin ini tinggal satu siswa yang masih di rumah sakit, dan insyaAllah hari ini sudah bisa pulang. Pihak yayasan dan sekolah sangat cepat tanggap. Seluruh biaya penanganan yang tidak ter-cover oleh BPJS ditanggung penuh oleh yayasan. Guru-guru juga disebar untuk mendampingi orang tua di rumah sakit,” puji Dr. Netti.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo memperketat imbauan kepada seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Sidoarjo agar memperketat kebersihan dan standar higienis makanan di kantin sekolah, serta rutin berkonsultasi dengan Puskesmas setempat demi menjamin
kesehatan peserta didik.
Hingga berita ini dipublikasikan, masyarakat dan pihak sekolah masih menunggu hasil pengujian laboratorium resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo untuk memastikan penyebab pasti kandungan zat dalam dugaan keracunan tersebut. (A.H/Tim)
Moch.fuad












