SURABAYA – Tawa dan sorak warga pecah di sudut kampung Jemur Wonosari, Surabaya, Minggu pagi (9/8/2026). Gang sempit yang dihiasi bendera Merah Putih itu mendadak terasa semakin semarak ketika Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, ikut turun dan berbaur bersama warga.
Tak sekadar hadir sebagai tamu, Ning Lia bahkan bergabung dengan warga RT 07/RW 05 Kelurahan Jemur Wonosari untuk mengikuti lomba Jarik Puting Beliung, salah satu permainan khas perayaan kemerdekaan.
Tanpa sekat dan tanpa suasana formal, Ning Lia terlihat menikmati permainan tersebut. Kain jarik yang diputar dan tantangan menjaga keseimbangan justru membuat suasana semakin riuh. Tawa peserta bercampur dengan sorakan warga yang memberikan dukungan dari pinggir arena.
Momen itu membuat suasana semakin cair. Anak-anak berlarian, ibu-ibu bersorak, sementara para bapak ikut memberikan semangat. Tidak ada jarak antara tokoh dan warga. Semua larut dalam kegembiraan khas lomba 17-an di kampung.
“Lomba seperti ini sederhana, tapi punya makna besar. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi cara kita menjaga kebersamaan sekaligus melestarikan budaya,” ujar Ning Lia.
Menurutnya, permainan rakyat seperti Jarik Puting Beliung memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar perlombaan. Ada kerja sama, komunikasi, kekompakan hingga rasa saling menghargai yang tumbuh secara alami.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dekat dengan teknologi, Ning Lia menilai ruang bermain bersama seperti ini tetap penting, terutama bagi anak-anak.
“Anak-anak sekarang perlu ruang seperti ini. Tidak hanya bermain gadget, tetapi juga belajar bersosialisasi dan merasakan kebersamaan secara langsung,” tuturnya.
Bagi warga Jemur Wonosari, kehadiran Ning Lia juga terasa berbeda karena ia tidak hanya datang untuk menyapa. Ia ikut merasakan langsung keseruan lomba, tertawa bersama warga, bahkan membuat video bersama.
Ketua RT 07/RW 05 Jemur Wonosari, Ramadhany, mengatakan kegiatan tersebut memang sengaja dibuat sebagai ruang bagi warga untuk berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga.
“Ini momen warga untuk kumpul, guyub, saling kenal lebih dekat. Semangat kemerdekaan itu ya seperti ini, kebersamaan,” ujarnya.
Ia mengaku senang melihat Ning Lia ikut membaur tanpa membawa suasana formal.
“Kalau ada Ning Lia pasti seru. Tidak ada kelas, tidak ada perbedaan. Semua membaur dan membuat warga semakin akrab,” katanya.
Ramadhany menilai, suasana sederhana di kampung tersebut justru menjadi gambaran kecil tentang bagaimana kemerdekaan dirasakan masyarakat.
“Semangat Ning Lia luar biasa. Beliau ikut menghidupkan suasana agar semangat Indonesia terus terasa hangat, sederhana, dan penuh makna,” pungkasnya.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, perayaan sederhana di Jemur Wonosari itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan seremoni besar.
Terkadang, kemerdekaan cukup hadir dalam tawa warga, anak-anak yang berlarian, tepuk tangan dari pinggir gang, dan kebersamaan yang tumbuh ketika semua orang mau melepas sekat dan duduk dalam satu suasana.
(Anil)












