SURABAYA — Di balik sorotan panggung penghargaan, ada ketulusan yang tak selalu terlihat. Saat Lia Istifhama menerima apresiasi “Senator Idola” dari Radar Surabaya, Selasa (31/03), yang tampak bukan sekadar kebanggaan—melainkan kerendahan hati seorang perempuan yang paham, bahwa setiap langkahnya adalah titipan harapan masyarakat.
Sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari Jawa Timur, Ning Lia tidak ingin dikenal hanya dari gelar atau jabatan. Ia memilih dikenal dari cara ia hadir—menyapa, mendengar, dan merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.
Ia percaya, politik bukan tentang siapa yang paling kuat bersuara, tetapi siapa yang paling tulus mendengarkan.
Tumbuh dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan keagamaan, putri KH Masykur Hasyim ini membawa bekal empati dalam setiap pengabdiannya. Baginya, setiap keluhan warga bukan sekadar data, melainkan cerita hidup yang harus diperjuangkan.
Tak jarang, ia larut dalam perbincangan sederhana dengan masyarakat—di sudut desa, di tengah kegiatan pemuda, atau dalam forum kecil yang jauh dari gemerlap protokoler. Dari sana, ia belajar bahwa harapan rakyat sering kali sederhana: didengar, diperhatikan, dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Langkah-langkahnya di Senayan pun tak jauh dari itu. Ia mendorong kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat—dari pendidikan anak, pemberdayaan perempuan, hingga peluang bagi generasi muda untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Namun, yang membuatnya berbeda bukan hanya apa yang ia kerjakan, melainkan bagaimana ia melakukannya—with heart, dengan hati.
Di luar ruang politik, Ning Lia menyalurkan jiwa seninya, menulis, berbicara, dan menginspirasi. Ia percaya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar—kadang cukup dari satu kata yang menguatkan, satu karya yang menyadarkan, atau satu langkah kecil yang konsisten.
Penghargaan “Senator Idola” itu pun seakan menjadi cermin: bahwa masyarakat tidak hanya melihat kerja, tetapi juga merasakan ketulusan.
Dan mungkin, itulah yang paling langka hari ini—seorang pemimpin yang tidak hanya hadir untuk memimpin, tetapi juga untuk mengerti.
Di tengah hiruk-pikuk dunia politik, Lia Istifhama memilih jalan yang sunyi namun bermakna: berjalan bersama rakyat, bukan di depan mereka.
Anil












