BERITA UTAMADaerahHUKRIMTAG

Dampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Ziarah Jelang Ramadan, Lia Istifhama: Cinta yang Tak Pernah Putus oleh Waktu

×

Dampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Ziarah Jelang Ramadan, Lia Istifhama: Cinta yang Tak Pernah Putus oleh Waktu

Share this article

RADARTEMPO.ID Surabaya — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, langkah Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, terasa lebih pelan dari biasanya. Sabtu (14/2), ia menundukkan hati di pusara sang ayahanda tercinta, KH Masykur Hasyim.

Di hari yang oleh sebagian orang disebut sebagai Hari Valentine, Ning Lia memaknainya dengan cara yang berbeda: bukan sekadar simbol kasih sayang, melainkan cinta yang hidup dalam doa. Cinta yang tak terputus meski dipisahkan oleh alam dan waktu.

Dalam ziarah penuh haru itu, ia didampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga merupakan tantenya. Keduanya berjalan menyusuri makam keluarga, menabur bunga, dan melangitkan doa untuk ayah, kakak kandung, kakek-nenek, serta keluarga besar yang telah berpulang.

Suasana hening. Angin berembus pelan, seolah ikut membawa bisikan doa yang terucap lirih. Di atas pusara sang ayah, Ning Lia menunduk lebih lama. Bagi seorang anak, kehilangan tak pernah benar-benar selesai—ia hanya berubah menjadi rindu yang dipeluk dalam doa.

“Ziarah makam itu penting bagi saya. Ini pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini. Ada perjuangan orang tua yang harus kita lanjutkan, ada doa yang harus kita kirimkan,” tuturnya dengan suara bergetar.

Menjelang Ramadan, ziarah menjadi ruang refleksi. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW dari Ma’qil bin Yasar RA: “Bacakanlah atas orang yang mati di antara kamu dengan bacaan surah Yasin” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Ramai dibaca :  TMMD Satukan Langkah, Kodim 1008/Tabalong Wujudkan Jalan Baru 1,2 Km di Barimbun

Baginya, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan amalan yang memiliki pijakan kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW pun mencontohkan ziarah sebagai pengingat akan kehidupan yang sementara.

“Ramadan adalah bulan penyucian jiwa. Maka sebelum menyambutnya, saya ingin membersihkan hati—mengingat dari mana saya berasal, dan untuk apa saya melangkah,” ucapnya.

Di pusara itu, cinta tak lagi berupa kata-kata. Ia menjelma menjadi doa yang tak pernah lelah dipanjatkan. Menjadi bakti yang terus hidup dalam setiap amanah yang dijalankan.

Bagi Ning Lia, cinta sejati bukan sekadar perayaan sesaat, melainkan kesetiaan untuk terus mendoakan dan melanjutkan perjuangan orang-orang tercinta yang telah mendahului.

Sebab pada akhirnya, setiap langkah pengabdian adalah cara seorang anak menjaga nama baik orang tuanya—dan setiap doa adalah jembatan yang menghubungkan langit dan rindu.

ANIL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Konten dilindingi !!